Kesedihan mendalam yang terjadi dalam kehidupanku dalam beberapa bulan ini dalam masalah relationship perlahan mulai menemukan titik terang, walaupun ego masih mewarnai yang membuat masalah ini menjadi berlarut-larut.

Tapi dalam masa sulit ini, entah kenapa energiku seperti mengundang wanita-wanita lain hebat sebagai survivor dalam hubungan-hubungan yang sulit dijalani, dan herannya mereka berhasil sejauh ini.  Walaupun ujung dari keberhasilan dalam urusan relationship atau rumahtangga itu bisa sangat bias karena tidak terlalu jelas achievement dan ujung dari masalah yang dihadapi.

Jadi satu persatu wanita-wanita itu hadir dan berbicara denganku menceritakan yang mereka alami, kita saling bercerita mengeluarkan uneg-uneg dan saling menguatkan satu sama lain.  Di satu sisi, ada sedikit perasaan bersyukur karena melihat bahwa ada orang-orang lain yang bernasib lebih buruk dari kita, dan menyadari masalah ini adalah masalah yang relatif banyak atau umum di sekitar kita walaupun ini bukanlah hal yang pernah saya bayangkan saya alami dalam kehidupan nyataku.

Betapa ternyata banyak sekali perempuan-perempuan yang menjalani pernikahan yang relatif mengerikan walaupun sebagian besar dari mereka tetap bertahan dengan alasan mereka masing-masing.

Pernikahan dengan KDRT baik fisik maupun verbal seperti sesuatu yang sering saya dengar akhir-akhir ini banyak dijalani oleh teman-teman saya yang mana mereka samasekali tidak terlihat mempunyai pernikahan seperti itu.  Banyak sekali pasangan yang terlihat romantis dan mesra bersama keluarga, rutin liburan dan terlihat harmonis dengan anak-anak dan istrinya, terlihat dari penampakan langsung maupun hanya sekedar di sosial media.  Do not judge the book by its cover!

Sebut saja namanya Miranda, dia seorang perempuan cantik berusia awal 30an, suaminya pengusaha tampan berbadan atletis karena kesukaannya berolahraga, sepeda berbagai merk dan ruang fitness dan ruang khusus meditasi lengkap menjadi bagian dari rumahnya, IG nya pun dipenuhi foto-foto dia bersepeda bersama suami, berikut berjalan-jalan dengan mobil Lamborghini yang mewah dan berwarna merah seharga milyaran rupiah, rumah besar berisikan home theatre dan pool mewah menghiasi feed nya, kehidupan glamour dan bahagia luar biasa, seperti dikatakan dalam Quran surat Ar Rahman, nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan.   Tapi ya begitulah teman, itu adalah kebahagian yang duniawi betul ya, ternyata sekarang dia di depan saya , walau sambil tersenyum dan tertawa menceritakan hal-hal yang dialami dalam pernikahannya yang membuat siapapun yang mendengarnya ternganga, karena apa yang dialami sudah menjadi keseharian sehingga tidak dianggap serius dan berlarut-larut dalam sedih lagi.  Makian dan hinaan dari suami yang tampan dan pengusaha sukses menjadi keseharian, kekerasan fisik walau tidak sering tetapi juga pernah dialami.  Hal-hal yang dianggap pencapaian dari sang istri dianggap angin lalu dan bukan sesuatu yang pantas untuk mendapatkan pujian.  Tapi jika ada kesalahan sekecil apapun yang dilakukan akan mendapat balasan cacian makian dan hinaan yang sungguh kadang membuat dia mempertanyakan, apakah betul sungguh saya serendah dan seburuk itu.  Hal yang sungguh saya dan siapapun yang mengenal dia tidak akan mengerti jika dia mulai yakin akan keburukan dirinya yang saya anggap hebat sebagai seorang perempuan dengan segala yang dia punya, karena dia mulai percaya kata-kata suaminya tentang betapa buruknya dia yang menjadi perkataan yang terlalu sering didengar.

Tapi Miranda hebat, memang, di awal-awal dimana dia menjalani KDRT fisik dan verbal sehingga membuat dia sering mempertanyakan kepantasan dirinya sebagai manusia dan wanita tapi karena dia bergaul dan membaca hal-hal mengenai self worth dengan baik, lama-lama perkataaan suaminya menjadi angin lalu buat dia.  Dia selalu yakin dia adalah wanita dan manusia yang berharga buat dirinya sendiri, buat anak-anaknya, buat suami dan keluarganya dan buat lingkungan pertemanannya.  Memang itulah yang juga saya lihat tentang dia sebagai temannya.  Sampai sejauh ini dia belum merasa perlu untuk meninggalkan pernikahannya karena dia tidak merasa yang dia alami itu cukup menyakitkan untuk membuat dia meninggalkan keluarganya, dan memilih bertahan dan mencoba nyaman dengan ketidaknyamanan itu.  Well, tentu saja, banyak hal-hal juga yang membuat dia memilih bertahan, seperti dengan statusnya sekarang itu menjadi nyonya pengusaha tampan dengan tiga  anak mungilnya dalam istana kecilnya dan memilih membayar itu semua dengan hal-hal diatas.  Atau diatas semua itu, dia tetap menganggap pelaku abuse itu masih dianggap cukup baik dan pantas untuk mendampingi dirinya.

Satu lagi, sebut Namanya Shinta, dia berusia 65 tahun, menjalani pernikahan selama 39 tahun.  Dengan tipikal suami yang sering membully dan memakinya.  KDRT verbal juga makanan kesehariannya.  Suaminya direktur salah satu perusahaan kapal besar yang merupakan konsorsium Perusahaan lokal dan pemerintah Jepang.  Tetapi karena efek pandemi   sekarang, terakhir kondisi sang suami yang notabene berasal dari keluarga kaya, mantan anak kebayoran pada jamannya, sekarang status pengangguran karena di PHK, dan Shinta yang sekretaris direksi dari salah satu perusahaan Bank BUMN   masih bekerja dan membiayai rumahtangganya.  Beruntung anak-anaknya sudah dewasa semua, kedua anaknya lulusan luar negri, yang satu sudah menikah dengan orang asing dan tinggal di Jerman  bersama keluarganya, yang satu lagi sudah bekerja dan tinggal di rumah sendiri.  Shinta hanya tinggal bersama suaminya yang tidak bekerja.  Dia juga bilang tidak ada satupun anaknya yang mau tinggal dirumah nya karena mereka tidak menyukai ayahnya yang mereka anggap sering menganiaya ibunya.  Sungguh realita pahit tapi tetap membuat Shinta bertahan hingga 39 tahun.  Mendengar saya bercerita tentang apa yang saya alami pun hanya membuat dia berucap, “kamu lihat saya yaa, kamu pikir saya bahagia? Tidak, saya tidak bahagia! Dan saya memilih untuk tidak bahagia bersama dia, karena itulah yang saya tahu bahwa sebaik-baiknya wanita tidak meninggalkan pernikahannya.”

Pernyataannya membuat saya bertanya dalam hati, apakah cinta seperti itu? Prinsip pernikahan yang saya anut adalah di dalamnya ada rasa saling perduli dan saling respek/menghargai walaupun kebanyakan, pernikahan yang sudah bertahun-tahun tentu saja sudah terkikis rasa cintanya.  Pernikahan tentu saja sesuatu yang patut dipertahankan, asalkan kita jangan sampai kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya.  Betul, memang pasti ada yang dikorbankan untuk menjaga pernikahan yang mungkin relatif kurang menyenangkan untuk dijalani, tetapi, pengorbanan itu janganlah sampai engkau kehilangan nilai-nilai yang kita punya untuk dipertahankan.  Jika memang sudah diluar prinsip dan batas dari nilai kehidupanmu, mungkin meninggalkan pernikahan bukanlah sesuatu yang sangat buruk pada akhirnya. Bagian terberat dalam meninggalkan pernikahan selain masalah keuangan.

Anak-anak adalah bagian dari dirimu tetapi pada akhirnya mereka juga memiliki kehidupan sendiri.  Selama pengorbanan yang dilakukan untuk mempertahankan keluarga dilakukan dengan hati bersih dan ikhlas itu sesungguhnya amat baik dan mulia, tetapi akan sangat berbeda jika kita ternyata terpaksa menjalaninya, untuk alasan-alasan yang seperti pembenaran akan ketidak benaran, menolak kenyataan untuk kenyataan yang sebenar-benarnya kurang baik untuk hidup kita.

Untuk itu para teman-teman wanitaku yang sangat cantik dan berharga, walaupun sedikit, cobalah untuk mempunyai tabungan atas dirimu sendiri.  Rejeki manusia sudah ditentukan oleh Allah, jadi jangan pernah berpikir kita tidak bisa mengupayakan dengan tangan kita sendiri. Walaupun ada pepatah yang menyatakan harta tidak akan dibawa mati, tetapi, itu tetap sesuatu yang wajib kita upayakan agar kita jangan sampai kehilangan jati diri kita sendiri karena mempertahankan kenyamanan yang sangat duniawi yaitu status dan harta.  Kita boleh mempertahankan pernikahan dengan alasan apapun tapi tetap kita harus mempertahankan nilai-nilai yang kita punya untuk dihargai, karena kamu memang betul sangat berharga.  Jangan pernah berpikir kita tidak bisa mempunyai hidup yang lebih baik jika kita tidak bersama pasangan yang tidak menghargai kita dengan baik.

Tentu saja mempertahankan pernikahan itu baik dan juga ibadah selama memang pasangan kita juga bisa berubah dan bisa menghargai kita dengan lebih baik.  Tetapi sebagai wanita, tetaplah mempertahankan mahkkotamu, harga diri dan nilai-nilai hidupmu dan jangan biarkan siapapun termasuk ayah dari anak-anakmu untuk bisa sebebas itu menginjak-injaknya.  Tetaplah berdoa untuk meminta kekuatan dari Allah agar bisa menemani setiap langkah-langkah yang diambil untuk menjadi keputusan-keputusan yang berkenaan dengan jalan hidupmu.  Karena Allah adalah juga Maha pembolak balik hati manusia.

God bless you ladies, karena kita adalah sebaik dan juga seburuk apapun yang ada dalam pikiran kita, sehingga, mohon agar selalu berpikir yang baik tentang diri kita sendiri.

Kita adalah wanita-wanita terbaik yang Allah ciptakan untuk diri kita hadir di dunia, sebagai istri dari seorang suami dan ibu anak-anakmu dan teman terbaik dari rekan-rekanmu di dunia ini.

You are pretty and awesome as a woman, never doubt about it!!!

 

Jakarta 23 Agustus 2021

Penulis : Heidy Andreyani

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
error: Content is protected !!
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelanggan kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja!
👋 Hai, Ada yang bisa kami bantu?